enlightened (2): spirit to war
Hi there!
Sudah dua tahun sejak buku Enlightened seri yang pertama diterbitkan. Hati saya dag dig dug ser setiap kali membayangkan respon pembaca terhadap seri pertama, yang mana sesuai jargonnya, you may get hurt! Saya sangat aware bahwa tulisan-tulisan tersebut begitu tajam dan keras. But I hold on to what my mentor said, “What hard is good.” Yang keras, yang sakit, itu baik untuk otot-otot (rohani) kita.
Di dunia yang semakin modern dan liberal ini, kadangkala sulit bagi kita untuk bisa discern kehendak Tuhan dan kehendak dunia. Iblis bekerja sangat giat untuk menjerumuskan anak-anak Tuhan dengan menggunakan berbagai metode kekinian. Caranya masih cara lama, yaitu dengan tipu muslihat dan godaan untuk kompromi. Kalau kita tidak sungguh-sungguh memiliki kerinduan dan kehausan pengenalan akan Tuhan yang lebih lagi, kita akan mudah sekali terperdaya.
The good news is, we are anointed.
Jikalau Enlightened seri pertama ditulis dengan bahasa gaul dihiasi kealayan namun penuh dengan kebenaran, seri kedua ini sedikit berbeda. Enlightened 2 : Spirit to War merupakan kumpulan devosi dan kupasan Firman dengan pendekatan yang lebih serius dan dalam. Seperti sub judulnya, Spirit to War, buku ini dipersembahkan untuk memperlengkapi anak-anak Tuhan untuk memiliki semangat seorang prajurit yang penuh dengan daya juang dan mental tahan uji, tanpa mengesampingkan anugerah dan kasih karunia.
Roma 13:12, “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. (the night is almost over, the day is near). Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan itu dan mengenakan perlengkapan senjata terang.
Sesungguhnya, manusia semua sedang ada dalam kegelapan dunia ini. Tidak terkecuali kita yang percaya. Yesus berkata bahwa barangsiapa mengikuti dia, tidak lagi berada dalam gelap namun sudah berpindah kepada terang. Kenyataannya, dunia yang kita tempati selama masih di tubuh daging ini adalah dunia yang gelap. Yang kejam. Yang suram dan mengerikan. Oleh karena itulah Yesus memerintahkan kita untuk menjadi terang bagi dunia ini. Namun tugas menjadi terang tidaklah segampang itu.
Kita berperang setiap saat, benar. Namun kebanyakan peperangan itu dilakukan di siang hari, karena pada saat itulah manusia berjumpa satu sama lain. Iblis menebar kebencian, kekesalan, pertikaian, melalui hubungan antar manusia. Seringkali sebelum merebahkan diri untuk tidur saya berpikir dia pasti berpesta dengan anak buahnya dan merancangkan jebakan dan serangan apalagi yang dilancarkan keesokan harinya. Bisa saja malam itu ia beroperasi di alam roh, mengintimidasi manusia lewat pikiran dan mimpi-mimpi serta emosi yang tidak kudus. Membuat yang satu memikirkan kebencian kepada yang satu. Eksekusinya, pecahlah perang itu keesokan harinya. Iblis buat kekacauan dimana-mana. Saat-saat tergelap manusia, dan dunia ini rupanya bukanlah di malam hari, namun justru di siang hari. Dan bilamana Iblis pun selalu merancangkan strateginya, bukankah kita juga harus demikian? Kita perlu untuk memperbaharui komitmen, dan meluangkan waktu yang lebih bersama Tuhan, untuk merenung, berdoa, membaca Firman dan mengarahkan hati total kepada-Nya, merancangkan strategi sesuai arahan dari-Nya, seraya bersiap mengenakan perlengkapan senjata untuk peperangan di sepanjang hari ini.
Beberapa topik mungkin terdengar baru atau sulit dipahami, namun saya berdoa seperti Paulus di Efesus 1:17-18.
“dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanNya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukanNya bagi orang-orang kudus,”
You may get hurt, but you will be enlightened!
Love,
Emmanuela Shinta
Price :
85,000 IDR printed copy
50,000 IDR e-book
Click here to chat with our team and make your order.