LOVING GIVES PURPOSE

Suatu malam saya ‘tersandung’ sebuah video dari reality show Korea, dimana selebriti atau idola dipasangkan dan menjadi pasangan virtual selama beberapa bulan dan kemudian berpisah Terlepas dari kontroversi konsep yang menjadikan pernikahan sebagai permainan, ada pasangan yang disebut Bbyu couple, yang keduanya dari girlgroup dan boygroup terkenal di Korea. Mereka. tampil di season 4 pada tahun 2015 dan berpisah pada Mei 2016 seiring dengan berakhirnya program. Pasangan ini memiliki interaksi dan chemistry yang luar biasa sehingga banyak fans berspekulasi bahwa mereka benar-benar jatuh cinta. Terbukti sudah 4 tahun berlalu, Bbyu couple masih menjadi pasangan paling populer di sejarah show tersebut dengan jutaan penggemar yang berharap keduanya menjadi pasangan sungguhan dan menikah. 

Jujur saja, ketika menonton video-video mereka saya jadi baper. Bukannya apa, saya setuju dengan para penggemar yang sangat yakin keduanya benar-benar memiliki perasaan terhadap satu sama lain lebig dari sekedar kebutuhan entertainment. Itulah yang kemudian menyebabkan episode perpisahan mereka menjadi sangat dramatis. Keduanya berurai airmata dan jutaan penggemar patah hati untuk mereka. Saya sendiri juga merasa patah hati dan sedih dengan kenyataan bahwa pasangan ini tidak bisa benar-benar menjalin kasih, karena hal itu akan menjadi skandal dan menghancurkan karir mereka. 

Sesudah menonton video Bbyu couple, saya jadi merenung (ps: tidak ada yang salah dengan merenungkan sebuah video reality show Korea, karena hikmat berseru di jalan-jalan. Tuhan banyak berbicara kepada kita bukan melalui suara audibel dari Sorga, melainkan dari kejadian sehari-hari seperti makanan yang kita makan, orang-orang yang ditemui di jalan, video yang ditonton, postingan yang dibaca, dll). Saya kemudian mulai berbicara kepada Tuhan.

Shinta : Tuhan, kok aku baper ya?

Tuhan : ……

Shinta : (Mulai menangis) 

Tuhan : …..

Shinta : (menangis) 

Tuhan : …

Shinta : Kalau punya seseorang spesial seperti itu, yang dicintai dan mencintai, nampaknya membahagiakan…. (masih menangis)

Tuhan : ..

Shinta : Lantas apa yang harus aku lakukan? (berhenti menangis)

Tuhan : Loving gives purpose

Shinta : …….

Loving gives purpose. Saya terdiam, berusaha meresapi sungguh-sungguh arti dari kata-kata itu. 

Saya ingat satu momen ketika saya bersama kawan-kawan kampus mengadakan doa puasa dan seorang kakak senior akan menyampaikan Firman. Sebelum sharing, ia bertanya, “Siapa disini yang merasa punya karunia single?”

Secepat kilat saya mengangkat tangan.

Kemudian di momen yang lain, kami duduk sharing bersama seorang pendeta Korea. Moksa-nim berkata, “Kalian harus mulai mendoakan pasangan hidup dari sekarang. Tuliskan dan doakan.”

Teman-teman saya kemudian mulai menulis. Saya cuma menggoyang-goyangkan jempol kaki. 

“Shinta, kamu tidak tulis? Tidak ingin menikah?” tanya Moksa-nim.

“Saya nggak tahu Moksa-nim, mungkin ya mungkin tidak. Tapi saya masih punya visi lain yang lebih penting, dan urusan pernikahan akan menjadi hal terakhir yang saya pikirkan.”

Wow. Radikal. 

Selama sepuluh tahun terakhir saya terus mengatakan hal itu kepada orang yang bertanya mengenai ‘rencana pernikahan Shinta’. Saya mencintai Yesus dan memberikan seluruh jiwa raga bagi ladang pelayanan dan itu sudah cukup. Saya kira saya akan tetap berpikir seperti itu selamanya. Ternyata tidak. Seiring berjalannya waktu, pemikiran saya berubah.

Mencintai seseorang memberimu tujuan. Saya rasa hal itu sangatlah benar. Hidup saya selama tujuh belas tahun pertama seperti sebuah kesia-siaan, karena saya tidak memiliki tujuan. Saya mendapatkan berbagai pencapaian yang saya inginkan namun saya tidak bahagia. Saya putus asa dengan hidup dan seringkali memiliki suicide thought. Saya masuk jurusan Bahasa Inggris karena saya tidak tahu mau jadi apa, tidak punya  mimpi dan hanya mengikuti dua orang kakak yang sudah terlebih dahulu lulus dari kampus tersebut. Saya tidak memiliki motivasi dan keinginan hingga kemudian akhirnya saya berjumpa dengan Yesus secara pribadi pada tahun 2009. Saya jatuh cinta kepada-Nya dan sejak saat itu hidup saya berubah total. Saya memiliki tujuan. Saya punya semangat hidup dan keinginan untuk melakukan banyak hal bagi-Nya. 

Memang benar bahwa darah muda sangatlah panas. Kita merasa bisa melakukan segalanya dan menikmati ‘present moment’ dengan bumbu idealisme sambil berkata, “While I still have time.” Seiring bertambahnya usia, banyak hal yang berubah dalam diri saya. Ada hal-hal yang dulunya tidak dipahami dan cenderung diabaikan sekarang justru menjadi penting. Perkataan-Nya tentang mencintai memberimu tujuan benar-benar menusuk hingga kedalaman hati saya, membuat saya menyadari betapa saya sudah jauh lebih dewasa dibandingkan sosok delapan belas tahun yang mengacungkan jari dengan penuh keyakinan untuk deklarasi karunia single.

Mungkin anak-anak Tuhan yang sudah menikah bisa memberi kesaksian yang lebih baik dari saya. Tapi saya yakin, mencintai seseorang dengan sepenuh hatimu dan berkomitmen untuk hidup bersama selamanya akan membawamu ke sebuah tujuan yang berbeda. Pernah dua tahun yang lalu seorang kakak rohani menelepon saya dari United States, hanya sekedar bertanya kabar. Dia berkata bahwa Roh Kudus tiba-tiba saja mengingatkannya tentang saya dan itulah alasan mengapa ia menelepon (btw, kakak rohani ini adalah orang yang sama dengan yang memberikan pertanyaan tentang karunia single).  Ia bertanya apakah saya sudah punya calon, dan tentu saja saya menjawab bilang. Kakak ini bercerita bagaimana dia sangat bertumbuh dalam hubungannya dengan Tuhan melalui keluarga kecilnya (baca: istri dan anak). 

“Kakak sekarang jadi mengerti besarnya kasih Kristus kepada gereja, kepada pengantin perempuannya. Hal-hal yang sebelumnya kakak nggak pahami, sekarang menjadi jelas. Semua Tuhan ajarkan melalui pernikahan,” katanya.

Tooeeenngg…. rasanya Tuhan benar-benar serius untuk berurusan dengan saya dalam hal ini. 

Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah mempercayakan saya dengan begitu banyak visi untuk dikerjakan. Saya bersorak karena mujizat demi mujizat, kemenangan demi kemenangan dan terobosan demi terobosan yang terjadi. Tidak pernah sekalipun saya bersantai-santai atau meremehkan kepercayaan dan tanggung jawab yang Dia berikan. Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik sebatas upaya saya sebagai manusia, dan saya yakin Tuhan pun disenangkan dengan itu. Bagaimanapun juga, saya tidak boleh lupa bahwa Dia yang adalah Tuan di atas segala tuan, juga seorang Bapa yang penuh kasih dan menginginkan anak-Nya untuk memiliki masa depan dan kehidupan yang bahagia. Saya sedikit sedih karena saya masih belum sungguh-sungguh memahami hati Bapa dalam hal ini. Well, saya bahkan tidak pernah membicarakan soal romance bahkan kepada ibu atau saudara-saudara kandung saya sendiri.  Mungkin karena latar belakang keluarga yang broken membuat hubungan antara Bapa-Anak menjadi sedikit lebih susah. Sampai hari ini saya masih terus mengupayakannya. 

Loving someone gives you purpose. Malam itu juga saya berlutut dan berbicara banyak kepada Tuhan tentang harapan dan mimpi. Sejujurnya saya bahkan masih belum punya keyakinan untuk menikah, namun saya berdoa bagi pasangan saya entah siapa dan di manakah dia berada. Meski saya belum bertemu orangnya, namun hati saya dipenuhi oleh kasih. Perasaan itu seperti mencintai seseorang yang bahkan kamu belum pernah temui. Namun bukankah dengan Tuhan juga sama? Seperti Rasul Petrus katakan :

“Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihatNya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan.”  1 Petrus 1:8

Percaya, mengasihi dan bergembira atas sesuatu yang belum terlihat. Ini adalah iman. 

“Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” Roma 14:23

Iman tidak hanya berlaku untuk hubungan antara kita dan Tuhan. Iman haruslah teraplikasi dalam semua aspek kehidupan dan setiap keputusan kita. Bukan berarti kita menjadi serampangan dan membenarkan keputusan yang tidak matang dengan dalih ‘moga-moga dalam nama Yesus’. Semisalnya ada orang yang kita sukai tapi jelas-jelas karakternya buruk, suka mabuk dan judi, serta ringan tangan, dan dengan innocent kita berkata, "aku beriman kalau dia akan berubah sesudah kami menikah,” No..big no… Itu bukanlah iman. Itu  namanya dibutakan perasaan. 

Banyak orang yang memiliki rasa takut akan sebuah hubungan, termasuk saya. Takut kecewa, takut patah hati, takut ntar nggak sampai ke pelaminan, dan seterusnya. Tapi Firman Tuhan dengan jelas berkata bahwa dalam kasih tidak ada ketakutan, dan kasih yang sempurna melenyapkan segala ketakutan (1 Yohanes 4:18). 

Saat menuliskan kalimat ini, saya merasa punya tujuan baru yang tidak bisa dimengerti dengan pemikiran, namun bisa dirasakan oleh roh dan hati saya. Kita tidak bisa menikahi seseorang hanya karena ia kaya dan tampan. Jangan pula memutuskan menikah dengan seseorang hanya karena terpesona dengan urapannya. Tidak ada yang salah dengan tipe ideal, namun jangan pernah terjebak hanya karena mengikuti love map di otak kita. Jangan pula termanipulasi dengan perasaan nyaman dan terbiasa. Pernikahan adalah tiket satu arah. Kita harus sungguh-sungguh berdoa untuk seseorang yang benar-benar dari Tuhan dan terus menjaga kekudusan, karena hanya Tuhanlah yang tahu yang terbaik untuk kita. 

Jadi untuk para singles di luar sana, mari kita berdoa bersama-sama. Yo!

Emmanuela ShintaComment