DATING OR…?
Masih berdasarkan Bbyu couple.
Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, pasangan ini tidak bisa bersatu dikarenakan profesi mereka sebagai idol yang notabene memiliki fans fanatik dengan ideologi BIM (bias is mine). Saya menonton beberapa fan cam yang menyorot interaksi si cewek dan si cowok sejak reality show mereka berakhir. Selama empat tahun terakhir, keduanya nampak berusaha menghindari satu sama lain di acara publik. Tetapi dalam beberapa kesempatan nampak sangat jelas mempunyai perasaan terhadap satu sama lain. Percayalah, nonton video-video seperti ini memang asik, tapi bagian terserunya adalah membaca komentar netizen yang menganalisa hubungan dan perasaan keduanya. Semua orang mendadak jadi pakar cinta! Lucu sih, tapi saya menemukan banyak hal menarik dan menohok saat membaca komentar-komentar seperti itu, terkhususnya komentar yang panjang dan berbobot lebih dari sekedar “Aww... cute couple, I ship them!”
Saya sudah tau memang bahwa rata-rata agensi Korean idol memiliki dating ban, yaitu larangan berkencan yang berlaku selama beberapa tahu. Ada pula agensi yang tidak memiliki dating ban, namun berkencan merupakan hal yang sulit karena kebanyakan fans akan kecewa dan sang idola akan kehilangan popularitasnya. Terkhusus bagi mereka yang baru satu atau dua tahun debut, masyarakat menuntut mereka untuk bekerja keras agar layak menjadi idola dan tidak seharusnya sibuk berpacaran. Kembali ke Bbyu couple, si cowok sudah empat tahun debut dan berusia 21 tahun, sementara si cewek baru dua tahun debut dan berusia 20 tahun. Mereka masih sangat muda dan baru mulai berkarir. Selain itu mereka juga memiliki member lain dalam grup mereka yang tentunya harus dipikirkan. Meski keduanya memiliki perasaan terhadap satu sama lain (bahkan mungkin saling jatuh cinta), namun mereka sadar bahwa mereka masih sangat muda dan masih memiliki jalan yang panjang. Akhirnya mereka mengesampingkan perasaan mereka dan tidak pernah jadian. Rupanya pengorbanan mereka tidak sia-sia. Sekarang di tahun 2020, si cowok sangatlah sukses menjadi host berbagai acara TV dan singlenya, sementara si cewek melejit sebagai aktris, membintangi berbagai iklan dan reality show, sukses merajai chart digital song bersama grupnya dan menjadi female idol yang menempati urutan pertama di reputasi brand untuk Januari 2020.
Mungkin beberapa orang berpikir tidak seharusnya saya membahas banyak hal tentang korean idol di sebuah tulisan rohani. Come on, this is where you learn a lot of wisdom! Setiap kebenaran dan pengajaran dari Tuhan harusnya lebih dari sekedar teori melainkan applicable dalam kehidupan sehari-hari. Kisah Bbyu couple menunjukkan realita dari pertanyaan yang sering diajukan kepada anak muda hari-hari ini. Kuliah atau nikah? Karir atau dating?
Untuk urusan karir saja, para idol korea sangatlah serius. Namun sesungguhnya bukankah kita memiliki hal yang jauh lebih penting untuk dikejar? Bagaimana dengan tujuan hidup?
Saat ini saya melakukan banyak hal, terbang dari negara satu ke negara lain dengan wajah terpampang di berbagai media dan siaran internasional. Banyak orang mengira saya sedang meniti karir. Sesungguhnya, jawabannya adalah tidak. Saya tidak sedang meniti karir. Saya sedang mengerjakan visi dan berusaha memenuhi tujuan hidup saya. Saya percaya bahwa karir adalah sebuah bagian kecil dari gambaran yang lebih besar, demikian pula sebuah hubungan. Itulah pula alasan saya tidak menjalin romance dengan siapapun selama dua belas tahun terakhir.
Bukan berarti karir lebih penting dari cinta. Kenyataannya masyarakat kita masih memisahkan kedua hal ini. Ada anggapan bahwa perempuan yang sibuk mengejar karir akan berakhir menjadi perawan tua. Saya sendiri kerap ditanyain, “Kamu sibuk terus, kapan nikah? Kalau kamu tidak menikah, siapa yang ngurusin kamu saat sudah tua?”
Dan memang benar, ada banyak perempuan yang belum menikah dikarenakan terus mengejar karir dan pendidikannya. Ada yang terlalu ambisius, selektif dan idealis, ujung-ujungnya jadi sembarang pilih karena sudah tidak tahan dengan tekanan sosial dan tuntutan orang tua. Di sisi lain, saya juga melihat ada banyak anak muda yang begitu mudahnya memutuskan untuk menikah. Jangan salah, saya tidak mengecilkan mereka yang memutuskan untuk menikah muda, Saya tahu ada orang-orang yang menikah di pertengahan usia 25n dan bahagia. Mereka takut akan Tuhan dan hidupnya diberkati. Yang saya maksudkan adalah ada banyak anak muda yang tadinya punya mimpi besar, talenta dan potensi luar biasa, rencana masa depan yang sudah tertata bahkan panggilan Tuhan sudah nyata jelas baginya, namun dikarenakan bunga-bunga asmara lebih memilih untuk langsung menikah. Banyak di antara mereka yang masih belum matang secara finansial namun merasa harus segera menikah karena sudah saking cintanya padahal barang yang dimiliki masih kredit, masih ngutang. Untuk biaya nikah dan uang jujuran pun keluarga harus pupuan (iuran).
Saya yakin hal ini adalah salah satu hal terpenting untuk dibicarakan, didiskusikan dan diajarkan oleh Gereja untuk generasi muda. Saya pernah menulis tentang hal ini di Enlightened 1, dan kerap kali juga mengkhotbahkannya. Bicara tentang pernikahan, kita harus kembali kepada Firman Tuhan di Kejadian 2:24, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya (mapan) dan bersatu dengan istrinya (dalam pernikahan) sehingga keduanya menjadi satu daging (sexual intercourse).”
Dalam buku Sexual Holiness series, dr. Andik Wijaya menuliskan bagaimana suami-istri adalah pasangan sepadan yang ditetapkan Tuhan untuk mengerjakan taman Eden. Perintah atau panggilan untuk mengerjakan taman Eden datang lebih dulu kepada Adam sebelum istrinya Hawa dijadikan. Artinya, kita perlu menemukan dan mengerjakan taman Eden, yaitu ladang panggilan kita terlebih dahulu, dan kemudian barulah Tuhan akan memberikan pasangan yang sepadan untuk kemudian mengerjakan ‘ladang’ itu bersama-sama. Tujuan hidup dan panggilan Tuhan haruslah jadi yang terutama. Itulah prinsip yang benar. Nyatanya di jaman sekarang justru terbalik. Anak muda pada kebelet nikah duluan, baru mencari panggilan hidup bersama. Kalau sudah gitu tidak heran banyak badai yang menerpa, piring gelas yang melayang dan pakaian yang dibuang.
Saya senang karena Bbyu couple memutuskan untuk tidak dating dan fokus pada karir mereka. Seandainya saat itu mereka dating, dunia sudah pasti akan menghujat mereka. Namun karena mereka sabar dan membuat pilihan yang benar, saat ini mereka adalah pasangan yang diharapkan untuk segera jadian bahkan menikah oleh jutaan fansnya. Intinya, kita harus sabar. Jangan terburu-buru masuk ke dalam sebuah hubungan romance, kalau patah hati nanti sakit banget lho. Let me tell you some personal stories.
Saya ingat pernah sangat menyukai seseorang selama empat tahun hingga saya berpikir itu adalah cinta sejati. Kami akan SMSan dan telponan empat bulan sekali, namun tidak pernah sekalipun cowok ini memberi kejelasan official dari status kami. Setiap kali kami bertengkar, saya merasa sangat terganggu dan tidak bisa fokus baca Firman, doa atau melakukan hal-hal lain (saat itu saya berusia 18 tahun). Ketika saya kemudian menerima panggilan Tuhan pada tahun 2012, dibukakan tentang visi dan kemudian memulai pelayanan Nehemiah Generation (sekarang ALIVE GLOBAL MINISTRY), saya benar-benar membuang perasaan saya secara total dan fokus hanya kepada pelayanan dan visi. Hanya dalam waktu singkat saya sangat bertumbuh, baik dalam kehidupan rohani, leadership dan perkuliahan. Saya lulus cumlaude dengan IPK tertinggi dari kampus dan diberkati dalam pelayanan.
Kemudian tiga tahun sesudahnya ada seseorang yang dekat dengan saya. Meski awalnya saya tidak menyukai cowok ini, kami menjadi berteman akrab melalui selera musik yang sama. Dia orang yang lembut, perhatian, dan cowok paling jujur yang saya pernah kenal. Sayangnya, saya tahu kami tidak mungkin bersama karena ada beberapa hal dalam kehidupan cowok ini yang tidak selaras dengan prinsip saya. Saya masih ingin melakukan banyak hal besar untuk memenuhi panggilan dan saya tahu bahwa kami tidak akan bisa berjalan beriringan. Intinya, meski kami merasa nyaman satu sama lain tapi kami tidak sepadan. Hebatnya, cowok inipun sangat mengerti tentang hal itu. Dia berkata, “Aku nggak mau jadi penghalang buatmu. Kamu harus terus maju mengerjakan visi dan mengejar mimpi-mimpimu.” Kami hanya memiliki dua hari waktu bersama untuk berbicara tentang perasaan kami tanpa ada bumbu-bumbu asmara. Januari 2016, saya memutuskan untuk 'membunuh' perasaan saya dan berfokus pada visi dan ratusan mahasiswa baru yang saat itu harus dimentorin dan dilayani. Beberapa tahun kemudian dia mengirimkan undangan pernikahannya. Meski tidak bisa datang, saya turut bahagia untuknya. Lebih dari itu saya bersyukur karena rasa sakit saya telah menjelma menjadi kekuatan yang memampukan saya untuk bekerja lebih keras dan mencapai hal-hal yang luar biasa. Ranu Welum. terbentuk , saya memulai kiprah di panggung internasional dan visi ALIVE Global Ministry pun lahir.
Dua tahun sesudahnya, muncullah seorang cowok lain (banyak banget ya! Saya menceritakan kisah-kisah ini agar Saudara dapat gambaran yang lebih jelas dan juga mendapatkan insight bahwa saya masih cewek normal haha) yang sangat nyambung sama saya dalam hal personality, dan juga sangat diurapi. Kami memiliki prinsip, value, hobby, pemikiran, bahkan pengalaman-pengalaman yang sama sehingga mudah bagi kami untuk jadi teman akrab hanya dalam waktu singkat. Yang paling istimewa adalah kami berdua bisa menyembah Tuhan selama lebih dari empat jam bersama-sama dalam hadirat, hal yang tidak pernah saya alami atau lakukan dengan orang lain (biasanya karena mereka kelelahan atau tertidur duluan). Berbagai konfirmasi yang tidak biasa mulai bermunculan sehingga saya mulai berpikir, “Jangan-jangan ini adalah orang yang ditetapkan Tuhan untuk saya.” Kami mulai berbicara tentang mengerjakan panggilan bersama, termasuk ladang misi dan keputusan-keputusan penting dalam kehidupan berkeluarga.Bagaimanapun juga baiknya dan rohaninya hubungan kami, saya merasa ada bagian yang tidak compatible antara saya dan dia (Catatan: hubungan disini bukanlah dating, melainkan komunikasi) khususnya dalam hal pemahaman kami tentang kehidupan. Saya merasakan dengan jelas bahkan dia bukanlah tipe pribadi yang saya inginkan untuk menghabiskan hidup bersama. Saya merasa dia masih terlalu dangkal, terburu-buru dan disetir oleh emosi. Saya berproses luar biasa dengan orang ini, dan akhirnya memang benar bahwa cowok ini bukanlah seseorang yang berkomitmen. Dia memutuskan komunikasi begitu saja dan tahu-tahu sudah berpacaran lagi.
Saya bersyukur dengan semua orang yang pernah hadir dalam hidup saya, termasuk cowok-cowok di atas, karena melalui mereka saya belajar banyak hal. Selama dua belas tahun terakhir saya berproses dan bertumbuh, dari seseorang yang idealis dan keyakinan total untuk hidup single, menjadi seseorang yang percaya dengan cinta dan mampu mengubah kesakitan menjadi kekuatan. Hebatnya, setiap kali saya mencicipi sakitnya ‘patah hati’, saya selalu bangkit dengan kekuatan dua hingga tiga kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Saya menjadi lebih produktif, lebih berani, lebih kuat. Lebih bersyukurnya lagi, saya bangga karena saya lebih memilih visi (atau karir dalam bahasa duniawi) lebih daripada bunga-bunga asmara dan kenangan-kenangan manis. Dalam dua tahun terakhir saya telah menjalankan dua seri tur dunia di tiga benua, dengan total lebih dari seratus penerbangan. Saya juga diberkati secara finansial. Ranu Welum berkembang dengan luar biasa, demikian juga pelayanan saya!
I think there are many ways to start. Jikalau kamu masih remaja atau awal 20n, jangan terburu-buru memulai sebuah hubungan. Jalanmu masih panjang. Kejarlah dulu mimpi-mimpimu dan buat orang tua bangga. Jikalau kamu sedang ada dalam sebuah hubungan, jangan buru-buru mau menikah. Yang cowok harus mapan dulu. Yang cewek juga sama. Buat yang sudah agak tua namun belum punya pasangan, jangan kuatir. Carilah dulu taman Eden kalian. Atau kalau sudah ketemu ,ya kerjakan. Nanti Tuhan akan pertemukan pasangan yang sepadan untuk mengerjakan taman itu bersama-sama. Buat yang sudah menikah, nggak apa-apa. Tidak ada kata terlanjur atau terlambat. Hanya kamu perlu bekerja ekstra untuk mengupayakan hubunganmu dengan pasangan dan anak-anak (kalau udah punya), termasuk hal-hal lain seperti kebutuhan jasmani. Tuhan itu baik dan Dia akan memberkati keluargamu. Biarkan kasih Kristus memimpinmu dan keluarga agar kalian bisa mengerjakan taman Eden bersama. Saya berdoa agar Saudara semuanya mengalami kepenuhan berkat Bapa dan memenuhi tujuan hidup masing-masing!
Dan jangan lupa, doakan saya. :)