APA SALAH THISIA?
Seorang teman mengirimkan DM berupa screenshot status si putri. Awalnya saya abaikan saja, bahkan sengaja nggak buka selama tiga hari karena kami dan tim Youth Act sedang salto jungkir balik guling-giling mengurusi persiapan flood relief missionke Katingan mulai dari galang dana, update campaignvia sosmed sampai jari keriting, panas-panas naik motor belanja ke pasar dan mengepak paket sembako hingga terjun lapangan mendistribusikan paket dan memberikan pleayanan kesehatan bagi warga yang terdampak banjir. Saat membuat tulisan inipun saya masih keringat dingin dan rada cenat cenut haning gara-gara kecapean. Paha kanan juga singkal karena perjuangan betangkar nimpan puang enei kareh saking derasnya arus di lokasi banjir. Rupanya saya sudah lumayan ketinggalan berita. Screenshot status IG sang putri sudah viral kemana-mana. Para tokoh adat dan pemimpin Dayak sudah bikin tulisan panjang-panjang d FB masing-masing. Yang share sudah puluhan ribu.
Bohong kalau saya bilang tidak turut geram melihat isi story sang putri yang menurut orang banyak telah ‘melukai hati masyarakat Dayak terutama mereka yang sedang kesusahan gara-gara banjir. Saya sempat terprovokasi juga dan sempat share tulisan salah satu tokoh muda Dayak tentang sang putri, dan menulis caption‘puang gere iya ina panunga hampe iwei.” (orang Maanyan pasti tau artinya). Duh, gimana ya? Bagaimanapun hati saya berdebar karena sungguh, kasian sekali putri ini. Apakah dia sengaja membuat status kontroversial tersebut, atau dia benar-benar tidak tahu dan tidak mengerti apa yang sedang dia katakan? Apa sebenarnya salah Thisia? Di tengah-tengah jadwal hectic emergency responsebanjir, saya sempatin deh untuk sedikit kepo. Daaaannnn…. Inilah hasilnya. Inilah kesalahan Thisia, menurut kacamata saya (karena saya emang lagi pakai kacamata hehe).
1. Posisi sebagai PUBLIC FIGURE
Thisia adalah seorang public figure dan merupakan PERWAKILAN KALTENG dalam kontes putri-putrian (saya tidak jelas kompetisi apa saja yang dia ikuti karena di profil nya ada banyaaaaak sekali listnya). Dia juga memiliki followers lebih dari 80k, semestinya sadar dan belajar dari kontroversi para influencer/selebgram yang sedang menjamur di Indonesia, contohnya si anjay-anjay kemaren, kemudian revina yang dituduh body shaming, terus zara dengan kasus videonya…Thisia harusnya berhati-hati dengan postingan sosmed. Terlebih sebagai perwakilan Kalteng, dalam konteks ini Thisia bertanggung jawab bukan kepada pejabat atau lembaga yang mengadakan kontes saja, namun kepada seluruh masyarakat Kalteng, kepada tetua adat Dayak, leluhur dan bumi Tambun Bungai. Demikianlah statementnya tentang banjir sangat tidak dapat diterima.
2. Mendiskreditkan perjuangan masyarakat adat Kinipan
Ada beberapa orang yang membela Thisia dengan menelaah susunan kata dan makna kalimat di story tersebut terutama kalimat mengenai ‘sampah menyebabkan banjir’. Namun sebenarnya itu hanyalah penggalan konteks kalimat. Perhatikan paragraph awal.
“Bukan nggak peduli lingkungan. Tapi kita hidup di negara yang mengutamakan hokum positif. Apa-apa harus ada legalitasnya. Contoh seseorang dapat di pidana karena adanya beberapa unsur tindak pidana…………”
Thisia bukan sekedar menyampaikan opini ‘sampah ke sungai adalah penyebab banjir’ atau ketidaksetujuan terhadap anggapan ‘pembabatan hutan menyebabkan banjir’, tapi dari awal status-statusnya sengaja dibuat secara offensivebagi masyarakat Lamandau khususnya pejuang Kinipan. Masa iya? Ini buktinya.
- Di status IG yang viral itu Thisia menulis opini dengan background Screenshot profil IG Save Kinipan. What is the point of using that picture? Apakah ada sentimen pribadi?
- Paragraf pertama Thisia menyebut soal hukum positif dan tindak pidana. Apa hubungannya dengan banjir? Tentu ini berkaitan terkait perihal penangkapan pak Effendi Buhing dkk beberapa waktu lalu.
- Rupanya beberapa minggu yang lalu Thisia juga membuat status terkait statement pak Effendi Buhing di Mata Najwa. Dia bahkan menulis poin-poin kesalahan Effendi Buhing dkk. Status ini hanya shareke close friends, tapi bocor ke publik.
- Thisia juga menulis “trs mau di salahin siapa?” , artinya ia tidak setuju dengan pendapat ‘banjir disebabkan oleh perusahaan-perusahaan yang membabat hutan.” Siapa yang Thisia bela? Entahlah. Mungkin perusahaan. Mungkin pejabat yang memberi ijin konsesi. Mungkin pula keduanya.
3. Menghindar & Tidak Meminta Maaf
Sudah taukan cara terkenal di negara ini? Bikin sensasi, viral, terus klarifikasi dan minta maaf. Sebenarnya akan sangat mudah jikalau Thisia mau rendah hati, mengakui kesalahan tutur katanya dan menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Kalimantan. Sayangnya, ia justru mematikan kolom mention dan comment, dan terus menerus update status/feedseolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Saya akan jadi orang yang terlalu baik hati kalau saya bilang dia tidak sengaja. Thisia sudah punya belief dan haluannya sendiri, sehingga ketika muncul oposisi ia merasa perlu untuk tampil dan pasang badan. Cuma yang saya nggak nyambung, dia pasang badan untuk siapa, kok sampai segitu nyolotnya sama pejuang Save Kinipan.
Iseng-iseng pula saya buka Instagramnya. Rupanya sang putri ini memang merupakan seorang ‘putri di dunia nyata.’ Gaya hidupnya cukup wow. Ulang tahunnya sebulan yang lalu pun diadakan di hotel mewah. Semua update fotonya di tempat-tempat berkelas dan mengenakan baju-baju mehong. Wow, jauh berbeda dengan saya yang sering keluar masuk hutan, pakai sarung dan daster dengan rambut puleh plus sandal nipon. Sampai sekarang saja saya masih berusaha cari solusi untuk telapak kaki yang pecah-pecah, retak layaknya tanah gersang nan tandus (krim lotion, minyak zaitun & scrub tidak membantu sama sekali, euy!). Setidaknya saya jadi sedikit memahami mengapa Thisia bisa begitu mudahnya mengatakan hal-hal yang melukai hati masyarakat adat.
Saya telah bergerak bersama anak-anak muda selama sepuluh tahun dan saya paham betul akan makna lagu Rhoma Irama yang berkata bahwa:
“Darah muda, darahnya para remaja yang selalu merasa gagah tak pernah mau mengalah.
Masa muda masa yang berapi-api, yang maunya menang sendiri, walau salah tak peduli
Biasanya para remaja berpikirnya sekali saja tanpa memikirkan akibatnya.”
(baca sambil nyanyi ya hehe)
Banyak kesalahan anak mudaterjadi hanya karena kurang pengertian dan kurang pengalaman. Saya terbiasa frontal dalam menyuarakan perjuangan masyarakat akar rumput, namun dalam kasus ini saya berasumsi bahwa Thisia sama sekali tidak bermaksud jahat dan tidak berniat melukai hati warga khususnya yang sedang berjuang untuk bertahan di tengah-tengah banjir. Dia hanya disconnected dari nilai adat dan budaya yang sesungguhnya, terdistorsi oleh gemerlap cahaya panggung di dunia yang ia geluti. Usianya baru 21 tahun, masih sangat muda. Jujur saya sedih kalau gadis semuda ini harus berhadapan dengan kritik dan argumen para tokoh yang saya yakin Thisia sama sekali tidak mampu memahaminya.
Lantas, apa yang bisa kita terkhususnya anak-anak muda bisa pelajari dari kisah Thisia?
1. Jangan sok ikut-ikutan bicara di ranah yang kita tidak paham/kuasai
2. Tidak semua hal harus dikatakan, dan tidak semua hal harus dibikin status
3. Hati-hati, your close friends can betray you
4. Dinas-dinas, lembaga dan berbagai panitia kontes putri-putrian dan duta-dutaan, jangan pernah abaikan 3B; BRAIN, BEAUTY & BEHAVIOR. Jangan hanya modal selempang terus jadi duta mi.
5. Injaklah bumi. Ingat keluarga dan saudara sesuku di kampung.
6. Rendah hati. Minta maaf tidak akan membuatmu terhina.
7. Belajar dari kesalahan.
Saya sangat berharap agar orang muda Dayak selalu ingat darimana ia berasal. Sejauh apapun kamu melangkah, setinggi apapun kamu mendaki, tetap ingat akar. Kalau baru pencapaian seiprit saja sudah sombong dan harat bukan main, bisa-bisa kalau sudah beneran sukses bisa lupa sama saudara sendiri. Untuk para gadis Dayak, ingat cantik itu bukan diukur dari tubuh yang proporsional dan kulit wajah glowing, serta sukses bukan diukur seberapa banyak gelar dan piala yang kamu dapatkan. Attitude paling penting. Hormatilah tetua adat dan leluhur. Hargai budayamu lebih dari sekedar berfoto mengenakan baju adat.
Tim #FloodReliefMission kami 90% terdiri dari perempuan. Sekarang saya harus mulai sombong dikit, nih. Mulai dari nyetir menerjang banjir, angkat-angkat beras ratusan kilo, mendistribusikan logistik meski air sebatas leher, kordinasi dengan Camat, Kapolsek dan Koramil. inilah karakter perempuan Dayak. Pekerja keras. Tidak banyak bicara tapi banyak bertindak. Punya rasa hormat dan empati terhadap yang kesusahan. Lemah lembut, tapi bisa jadi garang seperti singa ketika membela rumah dan keluarganya. Hat off to these amazing women!
Thisia bukanlah tumbal politik. Ia adalah korban dari kelalaiannya sendiri. Sekarang sudah mulai ada tuntutan untuk memboikot Thisia dari gelarnya sebagai putri Pariwisata. Seandainya Thisia lebih berani… ayo muncul dan meminta maaf, maka publik pun akan memaafkanmu. Semoga Thisia bisa segera memberikan respon yang tepat. Kalau tidak, ini akan menjadi noda reputasi yang akan terus diingat dalam sejarah hidupmu.