Bodoh Dalam Menghadapi Kebencian
Ambisi untuk terkenal tanpa basis. Tidak punya integritas. Plagiat. #shameonyouemmanuelashinta.
Hhhh…. aku menarik nafas panjang. Pihak yang sama, orang yang sama, kembali menyebarkan rumor melalui sosial medianya. Handphoneku terus berbunyi dengan notifikasi pesan What’sapp dari kawan-kawan yang menanyakan tentang rumor tersebut. Beberapa mendorongku untuk segera melaporkannya kepada polisi cyber dengan tuduhan pencemaran nama baik dan UU ITE.
Ini bukan yang pertama. Selama empat tahun terakhir, ‘mereka’ terus menerus menyebarkan rumor, menyindir, menghina dan mengirimkan pesan-pesan intimidasi. Sayangnya aku cukup sibuk sehingga tidak punya waktu memperhatikan semua kebencian dan rasa iri mereka. Ya, ketika pertama mereka berkoar di akhir tahun 2015, saya sedang berada di Singapura untuk berbicara di National Youth Council. Ketika selanjutnya mereka mengirimkan surat ancaman, aku sedang berlibur di Korea Selatan bersama keluarga. Ketika aku baru saja kembali dari tur di Eropa dan langsung sibuk mempersiapkan Tur Amerika bulan depan, mereka kembali berulah.
Seseorang mampir ke instagramku dan menuliskan komentar di bawah postingan fotoku dan mama, dengan kalimat berikut, “Reading this make me sick in my gut. Kamu harusnya bertanya pada dirimu sendiri kenapa begitu banyak orang benci sama kamu, lihat pakai kacamata orang lain, jangan cuma fokus ke dirimu dan pencapaianmu saja.”
Wow, luar biasa. Mau gimana lagi, memang benar, aku sangat fokus kepada apa yang sedang kukerjakan dan hal-hal yang ingin kucapai. Saking fokusnya, aku bahkan tidak punya waktu untuk mampir ke instagram orang lain dan meninggalkan kalimat kebencian.
Aku melihat seseorang yang aku kenal bersikap baik di hadapan saya, memberikan jempol tanda menyukai kalimat tersebut.
Aku melihat seseorang yang juga kalau ketemu selalu tersenyum dan ramah, menuliskan status yang menyindir tentang saya dan komentar tersebut.
Aku melihat seseorang yang berteman cukup baik denganku, yang juga pernah bergabung sebagai relawan di komunitas kami, memberikan jempolnya kepada postingan status itu.
Betapa licik dan munafiknya manusia.
Sangat menyedihkan bahwa banyak orang di dunia ini lebih senang menghabiskan waktu mereka untuk menjegal langkah orang lain daripada membangun tangga kesuksesan mereka sendiri. Selama bertahun-tahun aku sudah belajar mengabaikan segala bentuk omong kosong maupun caci maki yang orang lain ucapkan tentangku. Aku berfokus hanya kepada visi. Hari demi hari, dari pagi ke pagi, dari berbagai kota hingga berbagai negara, saya mengerjakan visi. Sayangnya, segala komentar jahat tersebut datang dari orang-orang yang dulu dekat denganku. Sebagai penganut sekte persahabatan sejati, sulit bagiku untuk tidak terluka.
Aku ingat kata-kata Rebecca Brown, “Jikalau ada orang-orang yang pergi dari kehidupanmu, biarkan. Bukan berarti mereka orang yang jahat. Hanya bagian mereka dalam cerita hidupmu sudah selesai.” Konsep ini selalu saya tanamkan di kepala. You know, di dunia ini ada berbagai rupa manusia dengan kepribadian yang berbeda-beda. Kalau cocok, kita bisa dekat dan berteman. Kalau tidak, maka kita akan menjadi sekedar kenal. Kalau bentrok, maka kita akan menjauh. Yang menyebalkan adalah ketika ketika segala sesuatunya sudah bentrok namun orang-orang yang merasa kecewa dan tersakiti itu terus merongrong kehidupanmu selama bertahun-tahun. But nervemind. Aku menemukan sebuah jurus yang sangat ampuh untuk menghadapi segala macam bentuk ke’rese’an manusia, yaitu “pura-pura bodoh.”
Ya, pura-pura bodoh adalah sebuah jurus rahasia yang super ampuh baik untuk menghadapi komentar kebencian dari haters yang terus menggonggong maupun ‘sasaeng’ (baca: orang yang suka sama kita namun tingkahnya rese, nyolot, drama dan bikin kesal). Banyak yang terjebak untuk merenungkan, mempertanyakan, membicarakannya berulang-ulang. Semua itu menjadikannya semakin merasa buruk dan sakit hati. Saya memilih untuk bodoh dalam hal membenci, yang artinya aku tidak mengerti sehingga aku tidak perlu meng’entertain’ segala macam bentuk pikiran dan perasaan yang tidak berkontribusi kepada visi.
Aku pernah mendengar sebuah kata-kata bijak seperti ini, “Dibutuhkan hujan dan matahari untuk sebuah bunga dapat tumbuh dan mekar. Demikian pula dibutuhkan pujian dan kritikan agar seorang perempuan bisa bertumbuh dan menjadi indah.” Kebencian berbeda dengan kritik. Kebencian datang dari mereka yang membenci, sementara kritik datang dari dua sumber yaitu, dari mereka yang ahli dan dari mereka yang mencintaimu.
Kritik dan kebencian sama seperti berkat Tuhan, tak habis-habisnya. :D Selama kita masih hidup dan melakukan banyak hal, kita akan terus berhadapan dengan kedua hal ini. Satu lagi, Kim Nam Joon pernah berkata, “Life is more beautiful knowing that we’ve taken a loan on death. Even light is treasured more when there’s darkness”. Karena adanya komentar jahat, maka dukungan dalam bentuk sekecil apapun entah itu hanya sebuah emot hati di kolom komentar instagram atau jempol di snapstory, menjadi sangat berarti bagiku. Aku diyakinkan bahwa lebih banyak yang mencintaiku, dan itu menjadikanku kuat dan bersemangat untuk terus mengerjakan visi. Seingat saya, hingga detik ini aku belum pernah menangis karena menerima kebencian. Lebih banyak airmata yang kutumpahkan bagi mantan pacar daripada untuk meratapi semua rumor.
Ah, sudahlah. Intinya, aku menyeruput segelas coklat panas dan menyudahi segala diskusi otak.
Sky Bloom, 2019