LOYALITAS (Part 3)

When you are stumbled

Pepatah mengatakan, orang yang belajar dari kesalahannya adalah orang yang bijak. Saya menemukan hal yang lebih baik dari itu. Orang yang belajar dari kesalahan orang lain, jauh lebih bijak. Dosa boleh dihapus, namun track record akan tetap ada disitu. Tidak ada yang akan mengubahnya. Abraham tetap tercatat sebagai 'penjual' istri demi menyelamatkan nyawanya sendiri. Esau sebagai orang yang memiliki nafsu rendah karena menjual hak kesulungan demi semangkuk kacang. Nuh pemabuk, Lot pelaku incest, Daud pezina dan pembunuh, Saulus penganiaya jemaat. Nah, sampai sekarang kisah dosa kesalahan mereka masih tercatat bahkan setelah beratus-ratus abad. Itulah mengapa penting bagi kita untuk terus menjaga REPUTASI, pondasi yang murni bagi visi selama di muka bumi hingga kekekalan nanti. 

Di saat kita telah belajar tentang ke-luarbiasa-an nya para pelayan, yang kemudian mendapatkan promosi besar-besaran, hak utama dari seluruh yang dimiliki majikannya, mari belajar pula dari pelayan Elisa yang bernama Gehazi. Sungguh, mereka-mereka yang mau menjadi pelayan seorang hamba Tuhan pastilah luar biasa. Mereka melihat kekekalan. Mereka menjadi saksi hidup mujizat dan keajaiban. Tentunya mereka juga mendapat pengajaran-pengajaran khusus yang tidak dibagikan kepada orang banyak. Saya selalu mengagumi mereka-mereka ini. Demikian pula Gehazi, ia menjadi saksi bahkan terlibat langsung dalam mujizat kebangkitan anak perempuan Sunem. Ia memasak rebusan beracun yang kemudian ditahirkan oleh Elisa. Ia juga yang membagi-bagikan 20 potong roti  yang dilipatgandakan sehingga cukup untuk 100 orang. Sayangnya, perjalanan Gehazi sama sekali jauh dari mulus. 2 Raja-raja:5 mencatatnya. 

Naaman menderita kusta. Elisa menyembuhkannya -sebenarnya bukan Elisa yang menyembuhkan namun pasti ada Firman yang datang ke Elisa dan itu disampaikan kepada Naaman, ketaatan Naaman kepada Firman itu membawa kesembuhan. Naaman sejak awal memiliki perkenanan Tuhan dalam hidupnya. Naaman ingin memberikan hadiah (320kg perak, 75kg emas n 10 set pakaian). Elisa menolak. Naaman memaksa. Elisa tetap menolak. 

Kenapa Elisa menolak pemberian Naaman? Tidak ada yang salah dengan hal itu, kan? Bukankah nanti bisa dipakai untuk memberkati orang lain, ratusan nabi2 lain yang ia mentori?

Hei, inilah faktanya. Seseorang yang sudah sold out utk melayani Tuhan tidak akan tertarik lagi dengan hal-hal materiil. Saya jadi diingatkan bahwa bagaimana saya selalu ngeset hati utk tidak pernah tergoda, terpengaruh atau dikendalikan oleh yang namanya Uang. Itu sudah ketetapan dari awal ketika saya mulai melayani 9 tahun lalu. Sampai sekarangpun masih sama, saya tidak pernah membiarkan ada atau tidaknya uang mempengaruhi keputusan-keputusan saya. Hal paling utama adalah tentang mengembalikan perpuluhan. Sejak 2009 tidak pernah sekalipun saya tidak memberi perpuluhan dari setiap berkat yang saya terima, meski hanya seribu rupiah! Saya menghitung dengan detail hingga recehnya, dan selalu memberi 50% lebih banyak dari jumlah yang seharusnya. Saya memberinya kepada para mentor, ibu rohani, rumah Tuhan. Saya ingat dulu bahwa setiap bulan saya memberi 15rb kepada ibu rohani, karena hanya itulah yang saya punya 150rb/bulan selama 2 tahun pertama kuliah. Belum termasuk persembahan khusus untuk pelayanan tertentu dan taburan benih untuk hidup orang lain baik yang saya kenal maupun tidak saya kenal. Sayangnya, dalam 3 bulan terakhir ketika sedang sibuk-sibuknya dan puji Tuhan juga diberkati lebih banyak dari biasanya, hingga beberapa puluh juta, saya justru lalai menghitung. Uang yang harus saya hitung tentunya yang merupakan bagian saya, dan saya yakin betul yang saya tabur/beri jauh lebih banyak dari nilai perpuluhan. Tetap saja dalam hati saya ada hal yang mengganjal, karena selama 3 bulan terakhir saya belum memberikan perpuluhan kepada mama rohani saya dan pelayanannya. Entah apa yang menyebabkannya, saya merasa akan mengirim/transfer bahkan berniat membelikan hadiah diluar nilai perpuluhan itu, namun kok tertunda terus ya? Ya saya terus menundanya dengan kesibukan, kemudian uang saya terus keluar untuk berbagai kebutuhan dan taburan lain, hingga akhirnya booom! I have nothing left. 

Saya sangat sedih dan mulai menyadari dosa saya. Saya minta ampun sama Tuhan, karena saya mulai berubah setia dan menggampangkan perpuluhan. Saya berdalih taburan pelayanan sehingga tidak mengutamakan perpuluhan, padahal perpuluhan harusnya SEGERA langsung dibayar begitu menerima berkat. Saya bertobat dan segera melakukan pembalikan. 

Kita tidak pernah tau alasan spesifik Elisa menolak pemberian. Mungkin ia tidak ingin menerima pemberian yang 'najis'.  Mungkin ia tidak mau hati terikat pada uang? Atau Tuhan secara spesifik bicara kepadanya, entahlah. Tapi apapun alasannya, that's a must. Sayangnya, Gehazi membiarkan hatinya corrupted. 

Ia mengejar Naaman dan ayat 22 menulis, ia berbohong. Ia berkata bahwa Elisa menyuruh dia meminta uang! 

What?? Ini benar2 mencemarkan nama baik Elisa sang nabi besar!

Perhatikan, Naaman membawa 750 pounds perak, dan Gehazi meminta 'hanya' 75 pounds, 10% dari jumlah itu. 10 set pakaian, Gehazi hanya minta 2 set. Sedikit atau banyak, bohong tetaplah bohong. Korup tetaplah korup. Cinta uang tetaplah cinta uang. 

Naaman dengan lugunya justru memaksa Gehazi membawa 150 pounds  (setara 75kg) dalam dua karung, memberi 2 pakaian bahkan memberi 2 orang pelayan untuk membawa pemberian2 itu. Again, Naaman is such a best service man! 

Pendek kisah, Gehazi kembali dengan semua pemberian itu. Ia menyimpannya. Elisa bertanya, "darimana?" Ia berbohong lagi, "tidak kemana-mana."

Entah Gehazi bodoh atau apa, masa dia tidak kepikiran bahwa Elisa pasti tahu kalau dia berbohong? Come on, Elisa adalah nabi besar dan dibukakan segala sesuatu! Itulah dia, kalau hati dan motivasi seseorang sudah tercemar, ia bisa menjadi sangat bodoh. 

Elisa hanya berkata, "Bukan kah hatiku ikut pergi ketika orang itu turun dari atas keretanya mendapatkan engkau?"

Dalam the Message, terjemahannya adalah "Didn't you know that I was with you in spirit when that man stepped down ..?"

Di sini kita perlu mengerti otoritas, bukan hanya secara kelihatan namun secara rohani. Tidak ada yang bisa disembunyikan karena adanya otoritas rohani. Secara roh, apapun yang kamu kerjakan dalam gelap dan sembunyi-sembunyi, dan penuh kebohongan sekalipun akan dengan mudah diketahui oleh pemimpin rohanimu. 

Endingnya, kita tahu, keluarlah Gehazi dari depannya dengan kena kusta, putih seperti salju. 

Bagaimana nasibnya selanjutnya? Apakah diusir? Atau bagaimana? 

Saya mencoba  untuk memahami hubungan antara kedua orang ini. Ini tidak seperti Musa-Yosua, Abraham-Eliezer, Daud-Triwira, atau Elia-Elisa. Ini sedikit pahit. Apa kira2 yang ada dalam hati dan pikiran Gehazi sesudah kejadian itu? Rasa malu, bersalah, penyesalan tentu memenuhinya. Dia harus pergi, bukan hanya meninggalkan Elisa namun juga bangsanya karena penderita kusta adalah najis, tidak punya tempat di tengah-tengah Israel. Lantas bagaimana isi hati Elisa? Hambanya ini telah mencemarkan namanya, dan mulutnya sendiri yang mengucapkan penghukuman itu. Apakah mungkin huungan ini tidak berakhir saja? Meskipun tidak tertulis secara eksplisit, namun saya punya keyakinan bahwa ada kisah yang tidak tertulis di Alkitab namun terjadi. Ada rekonsiliasi. Ada pertobatan. Ada kesembuhan. 

2 Raja2 7:3 dan seterusnya menulis bahwa 4 orang kusta duduk diluar gerbang, dan menemukan jarahan di perkemahan tentara Aram. Note, 4 orang ini adalah orang Israel. Mereka dikucilkan, dibuang karena kustanya.

Sementara 2 Raja2 8:4-5 mencatat bahwa Gehazi, bujang abdi Allah, berbicara dengan raja Israel. Pertama kita tau bahwa Gehazi masih tetap melayani Elisa, Elisa tidak mengusirnya dan ia juga tidak meninggalkan Elisa. Kedua, Kalau Gehazi masih menderita kusta, maka ia tidak mungkin tetap ada di tengah kota bahkan berbincang dengan raja. Artinya?

Your mistake in the past does not determine your future. 

Ada sebuah proses yang terjadi di jeda pasal 5 hingga pasal 8. 

Gehazi yang dulu hanya jadi penonton mujizat, dengan hati yang tumpul, diubahkan menjadi Gehazi yang berani bersaksi dengan berapi-api tentang Tuhan dan kesaksian hidup tuannya Elisa. Bukan hanya jasmaninya yang sembuh, namun ada satu personal revival yang terjadi dalam diri seorang Gehazi.

Saya lega menemukan akhir kisah ini still an outstanding one. No matter what, loyality is such a precious quality! 

It brings healing and restoration from the inside out.

Mungkin ada di antara kita yang masih tersandung seperti Gehazi. There is still a chance for us. Repent. Keep faithful. Be loyal, and God will reward you. Amen.